Jakarta — Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Chris Kuntadi, menegaskan bahwa aparatur sipil negara (ASN) tidak boleh sekadar menjalankan rutinitas administratif, tetapi harus mampu menjadi agen perubahan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menekankan bahwa perubahan status dari CPNS menjadi PNS harus diikuti dengan peningkatan kualitas diri dan kontribusi. “Dari CPNS menjadi PNS harus ada perubahannya, harus lebih baik,” ujarnya, seraya mengingatkan bahwa setiap ASN memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Hal tersebut disampaikan dalam acara penutupan Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS Gelombang II Golongan III Angkatan 80, 81, 82, dan 83 di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan, Rabu (29/4/2026).
Dalam arahannya, Chris Kuntadi juga menggarisbawahi bahwa bidang ketenagakerjaan merupakan sektor strategis dengan dimensi kemanusiaan yang tinggi, karena berkaitan langsung dengan hak dasar warga negara untuk memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang layak. Namun demikian, tantangan yang dihadapi masih besar, terutama dalam menekan angka pengangguran yang mencapai jutaan orang.
Melalui ilustrasi dari pengalaman lapangan, ia menyoroti masih rendahnya intensitas pelatihan vokasi yang belum sebanding dengan kebutuhan. Ia mencontohkan program pelatihan yang hanya berjalan beberapa bulan dalam setahun, sehingga belum memberikan dampak optimal. “Kalau satu tahun hanya dua paket pelatihan, lalu sembilan bulan sisanya digunakan untuk apa?” ujarnya.
Menurutnya, ukuran utama kinerja ASN adalah kemanfaatan. Ia membandingkan dampak saat menjadi dosen dengan lingkup terbatas, dengan perannya saat ini sebagai Sekjen yang mampu memberikan manfaat dalam skala nasional. Perubahan orientasi inilah yang harus ditanamkan kepada seluruh ASN.
Ia pun mencontohkan perubahan nyata yang mulai dilakukan, seperti peningkatan program pelatihan barista dari dua paket menjadi 40 paket dalam satu tahun sebagai bentuk inovasi dan keberanian berpikir di luar kebiasaan.
Lebih lanjut, Chris Kuntadi menegaskan bahwa setiap ASN adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Ia mendorong peserta untuk membangun kepemimpinan melalui inovasi dan keberanian mengambil langkah baru. Mengutip John Maxwell, ia menyatakan bahwa kepemimpinan adalah tentang pengaruh.
Menutup arahannya, ia menyampaikan pesan reflektif, “Sibuklah bersyukur sampai lupa mengeluh, jangan sibuk mengeluh sampai lupa bersyukur.”
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan SDM Ketenagakerjaan, Narsih, dalam laporannya menyampaikan bahwa Latsar CPNS Gelombang II diikuti oleh 145 peserta dari empat angkatan dan seluruhnya dinyatakan lulus. Kegiatan ini berlangsung sejak 27 Januari hingga 29 April 2026 melalui metode blended learning, mencakup pembelajaran daring, aktualisasi di tempat kerja, hingga pembelajaran klasikal. Sebagian peserta juga berhasil meraih predikat sangat memuaskan sebagai bentuk capaian kompetensi selama pelatihan.
Tim Humas PPSDM Ketenagakerjaan