JAKARTA — Bagaimana menanamkan nilai-nilai BerAKHLAK kepada aparatur sipil negara tanpa membuatnya terasa seperti mengikuti pelatihan di ruang kelas?
Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Ketenagakerjaan menjawabnya dengan pendekatan yang berbeda. Sebanyak 50 ASN dari lingkungan Biro Umum Kementerian Ketenagakerjaan diajak belajar melalui permainan, simulasi, roleplay, hingga pemecahan masalah dalam kegiatan Internalisasi Nilai-Nilai BerAKHLAK di Ruang Learning Center Kemnaker, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan tersebut dikemas dalam konsep capacity building berbasis experiential learning. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi diajak mengalami langsung bagaimana nilai-nilai BerAKHLAK diterapkan ketika bekerja dalam tim, mengambil keputusan, menghadapi perbedaan pendapat, hingga menyelesaikan persoalan bersama.
Kepala PPSDM Ketenagakerjaan, Dr. Narsih, S.Pd., M.M., mengatakan pendekatan interaktif dipilih agar internalisasi nilai ASN tidak berhenti pada pemahaman teoritis.
“Nilai-nilai BerAKHLAK tidak cukup hanya kita pahami dan hafalkan. Nilai itu harus dirasakan, dipraktikkan, kemudian dibawa kembali ke tempat kerja. Karena itu, kami menggunakan permainan dan simulasi agar peserta dapat mengalami langsung bagaimana bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah.”
Menurut Narsih, suasana pembelajaran yang lebih cair juga diperlukan untuk menyegarkan pegawai dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Melalui permainan, peserta justru dapat melihat karakter dan pola kerja masing-masing ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan kolaborasi.
“Kami ingin pembelajaran ini menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas, kemudian melihat kembali bagaimana kita bekerja sebagai ASN. Ketika suasananya lebih interaktif, peserta bisa belajar dari pengalaman, dari rekan kerja, bahkan dari kesalahan yang muncul selama permainan.”
Belajar BerAKHLAK dari Situasi Nyata
Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti berbagai aktivitas kelompok yang dirancang untuk merefleksikan nilai-nilai BerAKHLAK, seperti kolaborasi, komunikasi, orientasi pelayanan, akuntabilitas, hingga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
Metode experiential learning memungkinkan peserta memperoleh pembelajaran melalui pengalaman langsung. Setelah menyelesaikan setiap aktivitas, peserta diajak melakukan refleksi untuk menghubungkan pengalaman tersebut dengan situasi yang mereka hadapi dalam pekerjaan sehari-hari.
Pendekatan ini menjadi bagian dari implementasi Kemnaker Corporate University yang mendorong pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui pelatihan formal, tetapi juga melalui workplace learning dan pengalaman kerja.
Dengan demikian, kegiatan capacity building tidak sekadar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga membangun pola kerja yang lebih kolaboratif di lingkungan birokrasi. Salah seorang peserta mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran yang biasanya dilakukan melalui pemaparan materi.
![]()
“Biasanya ketika mendengar internalisasi nilai BerAKHLAK, yang terbayang adalah materi dan paparan. Di sini kami justru diajak bermain dan bekerja dalam kelompok. Dari situ kami bisa melihat bahwa komunikasi, kerja sama, dan cara mengambil keputusan ternyata sangat berkaitan dengan nilai-nilai BerAKHLAK.”
Dorong Birokrasi Lebih Lincah
PPSDM Ketenagakerjaan berharap kegiatan serupa dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja ASN yang lebih adaptif dan kolaboratif. Internalisasi BerAKHLAK juga dipandang penting untuk mengurangi sekat antarunit dan ego sektoral yang berpotensi menghambat penyelesaian pekerjaan. Narsih menegaskan bahwa budaya kerja tidak dapat dibangun hanya melalui aturan tertulis. Diperlukan pengalaman bersama yang mendorong pegawai untuk memahami pentingnya kolaborasi dan orientasi pada hasil.
“Birokrasi ke depan membutuhkan ASN yang tidak hanya patuh terhadap aturan, tetapi juga lincah, mampu berkolaborasi, terbuka terhadap perubahan, dan tetap memegang teguh integritas. BerAKHLAK harus terlihat dalam perilaku kerja sehari-hari, bukan hanya menjadi slogan.”
Melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif, PPSDM Ketenagakerjaan menargetkan nilai-nilai tersebut dapat semakin melekat dalam keseharian ASN sekaligus mendukung terwujudnya pelayanan publik yang profesional, berintegritas, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Tim Humas PPSDM Ketenagakerjaan