JAKARTA — Biasanya orientasi ASN identik dengan materi dan pembelajaran di depan layar. Namun, Orientasi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Kementerian Ketenagakerjaan Tahun 2026 menghadirkan pengalaman berbeda. Di tengah rangkaian pembelajaran daring, Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Ketenagakerjaan turun langsung ke lokus kerja peserta untuk menghadirkan satu hari pembelajaran secara klasikal.
Para PPPK tidak hanya duduk mengikuti materi, tetapi diajak keluar dari ruang kerja melalui kegiatan Kesiapsiagaan Bela Negara dan team building. Baris-berbaris, aktivitas kelompok, hingga permainan yang menguji kekompakan menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Di balik suasana yang dibuat lebih cair dan menyenangkan, kegiatan tersebut membawa pesan yang serius: membangun integritas PPPK sejak awal melalui disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian terhadap organisasi.
Orientasi PPPK Kementerian Ketenagakerjaan Tahun 2026 berlangsung pada 5–29 Oktober 2026 dengan konsep Blended Learning sebanyak 108 jam pelajaran (JP). Rangkaian pembelajaran memadukan metode synchronous, asynchronous, dan pembelajaran klasikal di lokus masing-masing.
![]()
Program tersebut diikuti 277 PPPK yang terbagi dalam dua gelombang. Gelombang I diikuti 188 peserta, sedangkan Gelombang II diikuti 89 peserta dari lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan.
Pada Gelombang I, pembelajaran klasikal dilaksanakan di empat lokus, yakni BBPVP Bekasi, BBPVP Serang, BBPVP Semarang, dan BBPVP Bandung. Sementara Gelombang II dilaksanakan di BBPVP Medan dan BPVP Sidoarjo.
Di BBPVP Bekasi, Kepala PPSDM Ketenagakerjaan, Dr. Narsih, S.Pd., M.M., hadir langsung dalam rangkaian kegiatan. Menurutnya, pembelajaran secara langsung di tempat kerja menjadi bagian penting untuk menanamkan nilai-nilai yang tidak cukup hanya dipahami secara teori.
“Orientasi ini bukan hanya tentang memahami tugas dan fungsi sebagai PPPK, tetapi juga bagaimana membangun integritas sejak awal. Karena itu, disiplin menjadi bagian penting. Melalui kegiatan seperti baris-berbaris dan team building, peserta belajar mengikuti aturan, bertanggung jawab terhadap tugas, bekerja sama, dan memahami bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap tim dan organisasi,” ujar Narsih.
Ia menambahkan, pengalaman yang diperoleh peserta dalam kegiatan klasikal diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Nilai kedisiplinan dan tanggung jawab harus dibawa kembali ke tempat kerja dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari sebagai ASN.
![]()
“Integritas tidak cukup hanya dibicarakan atau dipahami dalam materi. Integritas harus terlihat dalam perilaku sehari-hari, salah satunya melalui kedisiplinan. Ketika seorang ASN mampu disiplin, bertanggung jawab, mematuhi aturan, dan menjalankan tugas dengan baik, di situlah integritas itu diwujudkan,” katanya.
Kegiatan Kesiapsiagaan Bela Negara dan team building sendiri dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran daring. Baris-berbaris melatih kedisiplinan dan kepatuhan terhadap instruksi, sementara aktivitas kelompok mendorong peserta membangun komunikasi, kepercayaan, pembagian peran, dan kemampuan menyelesaikan persoalan bersama.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian orientasi yang lebih luas. Peserta mendapatkan materi mengenai pendidikan antikorupsi, pengenalan organisasi dan tugas jabatan, penerapan fungsi dan tugas ASN di tempat kerja, manajemen kinerja, Smart ASN, hingga evaluasi.
Melalui perpaduan pembelajaran daring dan pengalaman langsung di lapangan, PPSDM Ketenagakerjaan berupaya menjadikan orientasi bukan sekadar proses pengenalan bagi PPPK, tetapi juga momentum awal untuk membentuk ASN yang disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja dalam tim, dan memiliki integritas dalam menjalankan tugas pelayanan publik.
Humas PPSDM Ketenagakerjaan